Cast:
Daniel Radcliffe | Emma Watson | Rupert Grint
Tom Felton | Ralph Finnes | Alan Rickman
Helena Bonham Carter | Bonnie Wright
Directed by : David Yates
Duration : 130 min
Duration : 130 min
Synopsis
Setelah menghancurkan Horcrux dan menemukan makna dari tiga Deathly Hallows, Harry, Ron dan Hermione terus mencari Horcrux lainnya dalam upaya untuk menghancurkan Lord Voldemort. Namun, sekarang bahwa Voldemort telah menguasai Tongkat Elder, ia ingin menyelesaikan tahap akhir untuk mencapau kekuasaan tertinggi dan melancarkan serangan terhadap Sekolah Sihir Hogwarts, dimana tiga sekawan untuk terakhir kalinya melawan kekuatan gelap yang mengancam untuk menguasaia dunia Sihir dan dunia Muggle
the Deathly Hollow Info
- Part 1 gagal direlease ke 3D karena hasil konvert yang kurang maksimal
- Part 2 menjadi film dengan tampilan 3D konverter pertama yang tampil fantastis, hal ini tentu saja sangat memuaskan para Potter-mania.
- Part 2 melakukan retake adegan dimana para pemain sudah berwajah lebih dewasa.
- Adegan ledakan dalam Hogwart Battle, membuat set lokasi shooting kebakaran betulan.
Sebuah scene makam Dumbledore yang menjadi ending pada Part 1, akan langsung mengisi posisi awal film ini. Permulaan filmnya dibuat dengan to the point dan terlihat sangat hati-hati dalam pembentukan karakter Voldemort. Yates sangat tepat memberikan sebuah adegan pembuka untuk melanjutkan akhir yang paling ditunggu oleh pecinta film didunia.
Kemudian scene langsung bergulir sesuai dengan yang tertata dalam buku, sebuah set yang nampak tidak menghilangkan kekuatan yang telah ditampilkan oleh Chris Colombus dalam Harry Potter and The Philosopher Stone. Walaupun sempat meloncat jauh dari sisi petualangan Colombus menjadi sisi gelap dan mencekam ala Alfonso Cuaron Yates tetap stabil dalam memberikan tampilan Potter yang dimaksudkan oleh JK. Rowling. Beberapa adegan aksi pada awal film cukup membangun suasana yang sangat fantastis. Semua yang telah dibangun oleh Rowling dalam buku dapat tampil secara apik oleh Yates. Gringotts masih seperti yang kita lihat dalam Philosopher Stone, dengan beberapa goblin dengan muka menyebalkannya. Lorong-lorong brankas penyimpanan yang terlihat hanya sekilas pada film pertama, kini terlihat lebih real dan mencekam dalam balutan 3D. Tampilan bukit-bukit yang diisi oleh rel kereta dengan brankas di sampingnya terlihat lebih fantastis. Yates betul-betul teliti dalam membangun set tampilan Brankas yang sebelumnya dibuat oleh Colombus dengan penampilan baru dan sangat snggun dalam tampilan dimensi yang baru.Terkadang dalam menyaksikan adegan-adegan dalam film ini terasa sedikit terburu-buru dan kurang diberi jeda. Entah apa maksud dari sang sutradara, akan tetapi dia berhasil tetap mempertahankan prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh JK. Rowling. Malahan bila tampilan scene-scene awal terlampau panjang akan membuat film ini terasa amat membosankan. Hal ini demikian karena mengingat film ini dibagi dalam 2 bagian yang totalnya 4 jam lebih, yang seharusnya itu adalah timing lebih dari cukup untuk mengeksekusi akhir petualangan penyihir kurus berkacamata tersebut.
Yates akan dikatakan cukup konsist dalam mentransfer memorable scene dalam buku menjadi sebuah tampilan yang cantik dilayar lebar. Penataan sinematografinya harus diacungi jempol. Seharusnya petulangan final Harry Potter ini dapat masuk kembali ke jajaran unggulan Sinematografi terbaik pada Academy Award berikutnya, seperti film-film Harry Potter sebelumnya yang juga dipegang oleh Yates. Dari awal kisah Harry Potter diulas ke layar lebar baru David Yates yang menurut saya memberikan sepenuh jiwa Rowling untuk tampil dilayar. Tampilannya sangat memuaskan walaupun sempat terlihat terkatung-katung dalam pembuatan Half Blood Prince yang tetap terlihat memuaskan dan memukau, terlebih dari semua kesalahan kecil yang dibuat Yates.
Scene pertempuran dan pemberontakan Hogwarts dibuat dengan cepat dan cukup tajam. Beberapa adegan slow motion sangat mencolok mengingat tampilan film yang dibiuat dalam 3 dimensi. Perang mantra dan kutukan terlihat begitu energic, walaupun tidak dibuat sebegitu detail seperti yang tertulis dibuku, scene pertempurannya terlihat sangat fantastis. Andaikan di Indonesia ada IMAX 3D dipastikan film ini sangatlah indah dalam layar yang super besar tersebut. Adegan berikutnya yang amat memorable dalam film ini adalah scene King Cross yang terlihat begitu sesuai dan sangat indah. Semua penataan yang ada dibuat dengan cermat dan sangat pas. Yates memperlihatkan sisi sinematografinya yang lain yakni : tidak show off dalam penampilan film adaptasi.
Belum pernah ada sutradara selain Yates yang dipercaya oleh Warner Bros untuk memegang begitu banyak seri dalam petualangan Harry Potter. Yates adalah sutradara yang memegang 50% aksi petualangan ini. Dan menurut saya dia juga pantas mendapatkan gelar Best Harry Potter's Director. Sinematografi yang ditampilkan beberapa kali masuk unggulan oscar. Alexandre Despalt yang sempat terlihat kacau membuat scoring The Twilight Saga New Moon ternyata memperbaiki beberapa seri terakhir petualangan ini dengan sangat sempurna. Scoringnya dibuat dengan begitu memukau dalam tensi yang cukup pada masing-masing scene. Seluruh film ini adalah sebuah penutup yang sangat sempurna dengan komposisi premis yang manis. Dan setiap pecintanya akan merasakan begitu kehilangan dan puas atas di tutupnya seri petualangan Potter dkk. Dan film ini ditutup dengan scoring fantstis Despalt berupa Harry Potter theme dengan simfonia lama yang berkarakter baru.
Overall : 9/10
Sebuah Penutup yang sangat fantastis.






Tidak ada komentar:
Poskan Komentar