Pemain :
Olivia Jensen Lubis : Milli
Chris Laurent : Nathan
Sabai Morscheck : Asti
Fendy Chow : Oscar
Frans L. Tumbuan : Ayah Milli
Minati Atmanagara : Ibu Milli
Sutradara :Hanny R. Saputra
Penulis :Titien Wattimena
SINOPSIS
Milli dan Nathan saling suka dari SMU di Bandung. Nathan suka membantu Milli belajar, Milli dengan segala kelucuannya bisa mencairkan kekakuan Nathan. Mereka pun pacaran. Sampai lulus SMU, Nathan masuk ke universitas impiannya di Jakarta. Milli tetap di Bandung. Nathan memutuskan hubungan karena ingin konsentrasi dengan kuliahnya. Milli sebaliknya, tidak suka kuliah, Milli mau jadi penulis novel. Mereka masih saling merindukan. Sampai Milli akhirnya benar-benar berhenti kuliah dan menulis buku
Dalam kunjungan Milli ke Jakarta, dia bertemu Nathan lagi. Mereka saling melepaskan kerinduan seperti layaknya orang pacaran. Milli pulang ke Bandung dengan percaya bahwa mereka jadian lagi. Padahal Nathan tidak menganggapnya demikian. Milli kecewa. Peluncuran novel pertamanya, Milli sudah didampingi pacar baru. Nathan muncul lagi dan menyatakan penyesalannya, minta Milli kembali jadi pacarnya lagi. Milli marah. Menurut Milli, Nathan sudah seenaknya datang dan pergi dalam hidupnya. Milli tidak menerima Nathan
Nathan pulang ke Jakarta dan berhasil lulus. Milli kembali sibuk dengan novel keduanya. Milli kemudian putus dengan pacarnya. Nathan kembali ke Bandung. Mereka berhubungan lagi, tetap dalam ketidakjelasan sebuah komitmen. Hingga Nathan memberi kabar bahwa dia akan menikah… dengan wanita lain dan akan pindah ke Jakarta. Milli kaget. Kecewa dan marah
Hidup berlanjut. Milli menghapus Nathan dari hidupnya. Hingga akhirnya Milli tahu bahwa Nathan tak pernah benar-benar meninggalkannya.
Pada awal saya melihat trailer, promo video clip dari film ini. Yang pertama terlintas dalam pikiran saya adalah film drama yang lebai dan memaksa kita untuk tetap setia dengan tissue.
Kemudian semua itu mendadak hilang begitu melihat penggarap film ini adalah Hanny Saputra. Saya sudah jatuh cinta dengan garapan Bapak yang satu ini semenjak Virgin, Heart, Mirror, Love is Cinta< etc. Hanny adalah salah satu sutradara kawakan yang pantas diberikan gelar master of Romance movie atau yang lebih tepat Master of Beauty Cinematography. Garapannya biasanya selalu mengandalkan gerakn pen kamera yang halus dan penuh dengan power of artistic yang luar biasa. Ciri Hanny biasanya adalah lokasi yang di ambil di Bandung dan sekitarnya, dan selalu mengambil set view yang luar biasa. Untuk itu film ini pantas menjadi jadwal wajib tonton minggu ini.
POWERFULL CHARACTER :
Olivia Jensen. Gadis muda yang agak awalnya aneh menurut saya bereran menjadi Milli yang begitu memiliki karakter Woman Power dalam sinopsisnya. Lalu semua terbantahkan begitu saja dengan permainan Olive yang Bukan Acting Biasa. Karakter Milli begitu hidup, passion, galau, semangat, faith, semua tentang Milli hidup ke layar yang disajikan ke layar yg lebih lebar daripada film Indonesia pada biasanya.
Chris Laurent. Chris berhasil kaku atau memang actingnya yang kaku menjadi Nathan. Tapi overall Chris memberikan porsi yang tepat dan tidak terlalu berlebihan menjadi Nathan. Yang jelas Chris selain bisa menjadi menyebalkan pada tokoh antagonis di sinetron2nya, dia juga akan sanggup membuat penonton jatuh hati, menangis, sebal, dan terharu.
Fendi Chow. Fendi .. maaf …ini film bukan sinetron. Beberapa kali adegan cemburu yang ditampilkan Oscar adalah mengerutkan dahi sambil menajamkan matanya. Ini sangat mengganggu saya. Karena saat tersebut terlihat seperti terlalu sinetron. Padahal terus terang kehadiran awal Fendi sangat fresh dan sempurna.. next time aksen kerutan dahi mungkin agak dikurangi porsinya.
Sabai Morsheck. Asti adalah sahabat bijak yang sangat mencuri perhatian penonton. Oops tapi benar kan, sebagai porsinya Asti sangatlah mencolok dan mengundang perhatian yang besar dari penonton. Sosok Asti yang sabai mainkan sangat bijak tapi terlalu mencolok dan mencuri perhatian untuk kadar pemeran pembantu wanita. Ini adalah efek Sabai yang sangat piawai dalam acting-acting semacam ini. Yang gak percaya dengan acting Sabai lihat lagi SANG DEWI.
![]() |
| press launching at foodism cafe FX Jakarta |
Pergolakan Milli dan Nathan sangat attraktif dan mampu memberikan eksekusi ending yang sesuai dengan porsinya. Gak lebih gak kurang. Semua cukup lah. Hanny memberikan scene-scene kegalauan Milli saat ditinggal Nathan dengan sangat cerdas dan tidak biasa.
Dan secara keseluruhan film ini pantas ditonton bagi yang ingin mengerti lebih logis tentang apa yang harus dilakukan sebenarnya bila, anda ada di posisi Milli atau Nathan.
Yang jelas saya lebih suka melihat Orang yang kita sayangi Marah ketimbang Sedih.
Overall : 7,5 out 10
(Kelihatannya seperti biasa tanpa bumbu baru!
Padahal wajib tonton karena punya power yang luar biasa )











