UPCOMING REVIEW'S

Rabu, 26 September 2012

Radio Galau FM the movie, How “fall” is your love???


Kata yang sudah sangat sering didengar, diterjemahkan, diperolokkan, dan masih banyak lagi pernak pernik bahasa muda-mudi masa kini yang menggunakan kata galau. Tapi bila kita bicara Radia Galau FM, maka yang terlintas dibenak para pengguna social media adalah salah satu akun twitter yang mampu memberikan sindiran tajam berupa kegalauan. Ataupun beberapa orang akan langsung berfikir ke buku dengan judul yang sama, berisikan kisah-kisah galau yang cukup menyinggung perasaan. Jadi sebenarnya apakah inti dari film Radio Galau FM ini ???

Merupakan adaptasi buku yang juga memeliki akun dengan followers fenomenal di twitter, Radio Galau FM menyentuh masyarakat lewat audio visual dalam dunia sinematik. Kisah yang ditawarkan oleh Radio Galau FM the movie ini sendiri merupakan adaptasi dari buku dengan judul yang sama. Dengan memajang actor-aktris berbakat kaliber FTV, film ini hampir memberikan ekspektasi kearah FTV pula. Bara (Dimas Anggara) adalah seorang pemuda yang kesulitan mendapatkan tambatan hati dimasa pubernya. Kisah hidup Bara hanya penuh dengan kasih tak sampai dan seorang sahabat yang cukup menyebalkan bernama Rio (Jordi Onsu). Kisah bara akan bergulir dengan pacuan macam-macam emosi setelah ia menjalin kasih dengan Vellin (Natasha Rizki) dan kemudian harus bergulir kembali ke rollercoaster emosi bersama Diandra (Alisia Rininta).

Develop kisahnya sendiri tidak terlalu jauh berjalan keluar lingkup kehidupan Bara. Seringkali kisah yang demikian terasa hambar dengan terlalu banyak mix dan subkontras cerita didalamnya. Haqi sebagai penulis script dan Bara sendiri sebagai pemegang hak paten dari kisah Radio Galau ini, memiliki rem yang tepat untuk segi adaptasi. Alurnya berjalan pas, luwes dan tidak terlalu berlebihan seperti film drama percintaan yang sejenis. Walaupun sedikit banyak penonton akan memiliki side tersendiri untuk mengerutkan kening karena terasa sedikit annoying, namun pada akhirnya mereka akan lebih tahu mau dibawa kemana alur film ini oleh sang nahkoda Iqbal Rais. Dengan segala hormat berikut detail yang saya maksud dengan menghindari spoiler, scene annoying yang dimaksud disini adalah scene dimana penonton akan merasa posisi Bara sangat bodoh untuk dijalani, namun sangat mengena dengan realita kehidupan yang sebenarnya yang kemudian sebagai konklusi akhir untuk menggagalkan kesan annoying didepan tadi. Bila masih penasaran silahkan menonton filmnya segera. 

Iqbal bukanlah sembarang sutradara muda dimasa bangkitnya Film Indonesia saat kini. Sebagai gencatan besar Iqbal kepada perfilman Nasional dengan Tarix Jabrix yang mengangkat pamor Changcuters menjadi lebih tinggi. Sebagai buktinya film ini bisa menduduki posisi Trilogy dalam catalog film Indonesia. Dari kinerja yang dibuat oleh Iqbal, telah terbukti Radio  Galau ada di tangan yang tepat. Karena sudah banyak penggambaran galau yang ad adi FTV maupun sinetron yang kemudian bila dalam film Radio Galau ini dimasukan maka akan terlihat murahan. Namun Iqbal konsis menjaga setiap intonasi cerita yang terbilang simple namun terbilang rentan ini. Bagaimana tidak, sedikit saja Iqbal salah mengarahkan, Radio Galau akan terlihat cukup masuk FTV. Tapi keberhasilan Iqbal menjalinkan tulisan Bara dan Haqi Achmad membuat film ini punya kesan yang lebih untuk sebuah tema galau dalam drama  remaja masa kini.
Tidak ada yang begitu special diantara para actor dan aktris dalam film ini. Dimas Anggara berperan cukup jujur dan punya pakem yang baik memerankan Bara. Salah sedikit saja Bara akan menjadi tokoh fiktif dalam akun di twitter yang terlihat annoying dengan kegalauannya sebagai seorang remaja SMA. Pencuri perhatian sepanjang film ini adalah peran Velin yang diperankan oleh pendatang baru Natasha Rizki. Kesan manja dan lapisan energy emosi yang digambarkan dalam film ini cukup mengena ke penonton. Rollercoaster emosi yang dimainkan oleh Natasha terbilang cukup sukses membentuk kesal, marah, sedih, galau, dan berbagai macam mix perasaan lainnya sepanjang film. Sementara  Alisia tampil dengan sangat buruk sepanjang film. Dengan kesan karakter yang menyebalkannya cukup membuat penonton kesal juga dengan acting yang ala sinetron dan dandanan Diandra yang lebih terlihat seperti seorang siswi galak yang mau ke pesta dari pada seorang siswi senior galak. Mungkin sedikit banyak Alisia agak harus membedakan mana sinetron dan mana acting layar lebar.

Editing dan scoring musiknya cukup terbilang memuaskan. Sesekali simple backsound yang muncul terlihat cukup mendukung situasi scene yang sedang bergulir dilayar. Bagi saya pribadi disepanjang film ini saya tidak cukup melihat main song yang terdengar asik dan menonjol. Namun hal-hal kecil tersebut malah terselamatkan dengan backsound scoring serta sulaman editing yang pas.

Radio Galau FM the movie, menjatuhkan para penontonnya kedalam kejujuran akan keadaan galau seseorang. Walaupun beda-beda misi yang dibentuk oleh Radio Galau sudah cukup baik. Walaupun dengan tone film yang dimix dengan komedi yang kental, malah menghidupkan suasana yang tepat selama menonton. Sejauh apakah anda jatuh dalam kegalauan….

Tonton segera RADIO GALAU FM the movie

Overall 7.5/10
Diercted by IQBAL RAIS
written by HAQI ACHMAD
Cast DIMAS ANGGARA, JORDI ONSU, NATASHA RIZKI, ALISIA RININTA, JOE P-PROJECT, FRANDA 


Kamis, 16 Agustus 2012

7 SOMETHING, Tiga Kisah dengan 7 Kali Lipat Perasaan Berbeda

Lagi,...
sebuah film omnibus dari Thailand yang mewarnai layar tanah air. Berbeda dengan sebelumnya, GTH (GMM Thai Hub) yang sebelumnya terkenal dengan membawa omnibus horror Phobia kali ini sekaligus memperingati ulang tahun rumah produksi yang ke tujuh, GTH merilis film omnibus drama romantis. Film drama romantis yang diberi judul Seven Something ini disutradarai oleh tiga sutradara yang memiliki visualisasi yang menawan. Ketiga sutradara tersebut adalah Paween Purijitpanya, Adisorn Tresirikasem, dan Jira Maligol. Ketiganya juga mendirect film yang melukiskan filosofi angka 7 sebagai simbolis ulang tahun GTH yang ke tujuh dengan judul yang mandung angka tujuh. Dan sebagai pembukanya GTH menampilkan beberapa filosofi tentang angka tujuh yang kemudian dijabarkan dalam 3 film dengan filosofis yang sama berikut ini ;


14
director : PAWEEN PURIJITPANYA
Kao - Jirayu La-ongmanee as PUAN
Punpun- Sutatta Udomsilp as MILK
Satu lagi kisah yang diangat dari kehidupan remaja yang terikat dengan social media. Puan (Jirayu) pemuda tampan yang begitu terikat dengan social media dan gadget canggih disisinya. Milk (Pupun) adalah kekasih Puan yang berfikir sebaliknya dari Puan. Pasangan muda yang baru saja terikat jalinan kasih ini berjalan melalui kehidupan social media yang bisa kemudian social media tersebut berbalik negative dalam kisah cinta mereka.


Kebahagian Puan yang berlebihan atas status cintanya tidak segan-segan ia tampilkan dalam social media miliknya. Teman-teman Puan yang penasaran men-stalking rekan-rekan Puan satu sekolah untuk mencari dengan siapa Puan menjalin kasih. Dan Milk tertangkap basah bahwa kini telah menjalin kasih dengan Puan. Sepenggal cuplikan kecil dalam pembuka kisah “14 “ garapan Panween ini cukup punya greget yang kuat. Sesuai dengan angka dan umur film Seven Something membuka dengan tema yang paling muda. 14 tahun adalah masa dimana semua cinta monyet bersemi, puber pertama, serta banyak hal lainnya yang sifatnya pertama dalam kehidupan seorang anak manusia. Paween mengemas kisah 14 dengan kisah yang begitu dekat dalam kehidupan remaja masa kini. Social media yang kini menjadi bagian dari kehidupan remaja saat ini begitu kuat digambarkan oleh Paween. Mulai dari update status lewat Facebook, Path, Twitter, ataupun share video dengan youtube digambarkan oleh Paween dengan detail dan cukup menyentil kehidupan social media life saat ini. Galau, marah, sedih, apapun yang dituangkan seseorang dalam social media sedikit banyak berpengaruh dalam kehidupannya. Kiranya itulah yang akan disampaikan oleh Paween dalam film berjudul 14. Di Umur yang 14 begitu muda dengan kehidupan sosial media yang datang bertubi-tubi di era digital seperti sekarang ini dengan begitu pula cinta Puan dan Milk dipertaruhkan. Setelah berhasil membesut Jirayu menjadi biksu kecil dalam Phobia 2, kini Paween kembali membawa Jirayu menjadi seorang remaja dengan masalah cinta yang berkomplikasi dengan sosial media.

21/ 28
director : ADISORN TRESIRIKASEM        
Sunny Suwanmethanont as JON
Cris Horwang as MAM
Setelah bertahun-tahun memunculkan dalam Bangkok Traffic (Love) Story, sutradara Adisorn kembali membawa sebuah kisah galau yang juga dibintangi oleh si cantik Cris Horwang. BTS yang sebelumnya laku keras di Thailand dan jug adi Indonesia menjadi salah satu Thai Romcom acuan untuk beberapa film dengan genre yang sama. Adisorn telah memberikan standar yang tinggi lewat BTS. Dan kembalinya Adisorn dalam Seven Something akan membawa kisah yang tingkatannya lebih galau serta masih dengan mix komedi yang kental.


Jon (Sunny) Seorang bintang film yang telah 7 tahun vakum dibuntuti oleh Mam (Cris) lawan mainnya yang juga mantan pacarnya dimasa lalu. Kehidupan Jon yang telah berubah 180 derajat begitu juga dengan Mam yang sudah tidak lagi begitu dikenal di generasi masa kini. Film “I See You” adalah film mereka satu-satunya dan sukses luar biasa 7 tahun lalu. Namun karena terlilit keuangan serta konflik hubungan pribadi diantaranya membuat mereka terbuang dari dunia hiburan. Jon yang kini bekerja sebagai penyelam di Akuarium raksasa di Siam didatangi Mam lantaran sang sutradara akan membuat sekuel dari film mereka. Permasalahannya mereka sudah tidak seperti dulu lagi, baik di dunia hiburan maupun ikantan batin satu sama lain.

Adisorn memang pakarnya membuat kalut para penontonnya. Baik secara sinematografi yang begitu dalam serta alur yang akan menyeret-nyeret anda hingga lelah. Tidak mengarah ke negative, maksud menyeret disini adalah anda akan dibuat begitu relate dengan peran Mam dan Jon di film ini. Komplikasi cinta yang terjadi diantara mereka, hingga semangat Mam yang tiada putusnya kepada Jon. Beberapa scene dibuat alur maju mundur akan lebih menantang kesanggupan penonton untuk tetap setia mengikuti kepiluan film ini atau istirahat sebentar untuk keluar karena melihat kelelahan hati yang tiada henti. Selipan komedi dari Adisorn dilakonkan dengan menarik oleh Cris. Dan beberapa bintang GTH lainnya ikut meramaikan sebagi cameo komedi sepanjang film ini.

 42.195
director : JIRA MALIGOOL
Nichkhun (2PM) Horvejkul as HE (pemerna pria)
Suquan Bulakul as SHE (pemeran wanita)
Kisah 42.195 adalah kisah yang paling banyak ditunggu. Melihat begitu banyaknya fans dari Nickhun 2PM bagian ketiga dari Seven Something ini menjadi bagian paling ditunggu. Kisahnya tentang He (Nickhun) yang tengah latihan marathon tidak sengaja menabrak She (Suquan). Kedekatan mereka mulai terjalin lewat marathon, He dan She mulai menjalin hubungan mereka lewat lari. Sekaligus keduanya lari dari sesuatu dibelakang mereka masing-masing. Yang akhirnya hal tersebut saling bersentuhan dan membuat mereka dalam situasi yang membingungkan satu sama lain.


Kisah terakhir ini adalah kisah tren yang sedang banyak mewarnai kisah perfilman Thailand. Yakni kisah tentang pemuda yang jatuh hati kepada wanita yang lebih tua. Sebut saja 30 Fabolous, Jan Dara, dan beberapa kisah lainnya selalu identik dengan yang demikian. Sayangnya cerita sejenis berpengaruh dan melekat satu sama lain sehingga seringkali terkesan kurang kreatif dengan membangun kisah yang demikian. Jira membangun kisah ini dengan sangat berbeda. Sebuah tema lari marathon yang diusungnya dibangun dengan sedemikian rupa hingga penuturan watak satu sama lain tidak timpang dalam umur. Karakter yang hidup sepanjang film adalah marathon, He, dan She buka “umur” yang biasa menjadi main drama dalam film yang bertema demikian.

Editing dalam babak terakhir ini terbilang agak berbeda, ketika sebelumnya Paween yang banyak bermain-main dengan angle serta focus kamera atau Adisorn yang mengambil segalanya dalam angle yang wide. Banyak scene taman dengan set yang sama terlihat berbeda dengan pengambilan posisi view yang cukup menarik. Kisah yang dituturkan sangat menginspirasi, serta cukup baik dituturkan tanpa harus berputar-putar. Misi penyamaian dilema karakter masing-masing tokoh tersampaikan dengan bijak dan balutan set marathon terutur dengan baik.


Ketiga film diatas bertutur dengan angka Tujuh sebagai main story dalam film ini sebagai tema utama diulang tahun ketujuh dari GTH. Filosofi Uranus, Cinta pertama, kisah yang terjadi tiap tujuh tahun, ataupun kilometer lari yang juga menunjuk ke angka tujuh kesemuanya saling menunjukan keistimewaan dari kisah yang bergulir tiap tujuh tahun kemudian.

14
merupakan perkalian 7 dengan 2,
Biasanya merupakan umur pertama kali cinta monyet

21/28
merupakan angka yang bisa di bagi 7
dan filosofi pemikiran kedewasaan dimulai di umur 21

42.195 , 42
merupakan pembagian 7
Bila semua angka dijumlah totalnya adalah 21 yang merupakan angka pembagian dari 7

Buatlah 7 alasan untuk diri anda sendiri untuk menilai film ini.

Overall : 8/10

SEVEN|SOMETHING
14 directed by PAWEEN PURIJITPANYA
Cast : Kao - Jirayu La-ongmanee as PUAN, Punpun- Sutatta Udomsilp as MILK
21/ 28 directed by ADISORN TRESIRIKASEM
Cast : Sunny Suwanmethanont as JON, Cris Horwang as MAM
42.195 directed by JIRA MALIGOOL
Cast : Nichkhun (2PM) Horvejkul as HE, Suquan Bulakul as SHE



Minggu, 03 Juni 2012

Snow White and the Huntsman, Kisah Adaptasi Brothers Grimm Yang Lebih Gelap


Director : Rupert Sanders
Writers : Evan Daugherty, John Lee Hancock, Hossein Amini
based on   : the Brothers Grimm
Durasi : 127 min

Kristen Stewart as Snow White
Charlize Theron as Queen Ravenna
Chris Hemsworth as Eric, the Huntsman.
Sam Claflin as William

The Dwarves ( 7 Kurcaci)
Bob Hoskins as Muir
Ian McShane as Beith
Johnny Harris as Quert
Toby Jones as Coll
Eddie Marsan as Duir
Ray Winstone as Gort
Nick Frost as Nion
Brian Gleeson as Gus

info;
ini adalah kali pertama Rupert mendirect feature film, dan film tentang Snow White kedua di tahun ini setelah Mirror Mirror.

review 
Alkisah seorang ratu yang tengah mengandung dan sangat mengimpikan anaknya adalah seorang perempuan cantik seputih salju dan  bibir semerah mawar yang merekah di musim salju di kediaman instananya. Dan Snow White (Stewart) sang Putri cantik telah lahir sesuai dengan apa yang diimpikan sang Ratu. Kematian sang Ratu membuat sang Raja terpukul hingga ia bertemu dengan seorang wanita cantik di tengah peperangan bernama Ravenna (Theron) . Ibu tiri yang sangat cantik dan disukai oleh Snow White itu berubah menjadi sosok kejam yang menghabisi kerajaan nya dalam sebuah kegelapan yang mencekam. Dan Snow White harus siap berontak untuk melawan kekuatan sihirnya. Namun ditengah pelarian Snow White ke tengah gelapnya hutan, ia di kejar oleh Eric Sang Pemburu (Hemsworth) yang kemudian semua mulai bersatu untuk menjadi pemberontak melawan maut dalam kerajaan Queen Ravenna yang gelap.


Melihat apa yang dilakukan oleh Rupert kepada kisah Snow White ini merupakan bukan kali pertama. Sebelumnya Batman kisah komik yang melegenda dibuat menjadi thriller menegangkan oleh Nolan, dan kini giliran Rupert yang mengolah kisah Putri Salju begitu mencekam dan sangat gelap dari kisah aslinya. Bila kita melihat kisah Mirror Mirror yang datang dengan begitu ceria dan berwarna, Snow White and the Huntsman akan lebih memberikan banyak warna kelabu dengan gelapnya langit serta mencekamnya kerajaan yang ditindas oleh Queen Ravenna. Alurnya pun dibelokkan agar bisa sesuai dengan temanya yang juga gelap. Penulisan naskahnya juga menggaet Hussain Amini yang juga mengolah naskah Drive garapan sutradara Nicolas Winding Refn. Hussain dan teamnya mengolah naskah dengan sangat baik sehingga bisa beralur menarik dan memiliki banyak sudut karakter Snow White yang  ditampilkan dengan sangat nyata. Kehidupan dongeng serta kekejaman yang terjadi dibalut dengan porsi dialog yang sudah keluar dari dongeng aslinya akan menjadi sebuah nilai yang amat bagus disini.

Kristen adalah gadis muda berbakat yang sering memerankan banyak peran yang terasa hambar bila diperankan olehnya. Pasalnya mimik serta ekspresi Kristen cenderung sering kali standard an hanya memaniskan film tanpa bisa memasuki karakter tokohnya. Dengan basic Twilight Saga dipundaknya merupakan sebuah beban berat untuk membuat Snow White tidak terlihat menjadi Bella Swan disini. Kristen masih belum maksimal namun Bella Swan berhasil tetap setia di Twilight dan Kristen bisa menjadi Snow White seutuhnya disini. Chris pemuda berpostur besar yang terlihat (sudah seharusnya) urakan dan berkarakter pemabuk sepenuhnya cukup baik berperan walaupun sesekali acting Chris dimana dia harus menjadi seorang yang keras kepala agak sedikit banyak terasa karakter keras kepala yang juga ditunjukannya di garapan Kenneth Branagh ; THOR. Sam Claflin yang sebelumnya turut meramaikan Pirates of the Caribbean on a Strangers Tides. Dan Charlize Theron adalah ratu segala ratu sepanjang film ini. Keketaman dan kegelapan iblis penyihir yang ada dalam diri Ravenna lantaran masa lalu yang kelam dibentuk oleh Theron hingga ia tampil dengan sangat sempurna serta begitu mengerikan. Sesekali dalam kekejaman dan kesadisan yang dilakukan oleh Ravenna, Theron menjadi ratu yang cantik tanpa akhir hingga kita akan dihadapkan dengan sosok Ravenna yang begitu gelap dan itu akan terkombinasi dengan sangat baik ditangan seorang aktris kawakan sekelas Theron.

Directing Rupert yang cenderung wide angle dan berbalut gelapnya animasi serta effek-effek mengerikan dalam film ini berhasil membawa Snow White yang betul-betul menderita lantaran harus melawan sang Ratu kejam dalam film ini. Beberapa adegan klimkas dari sebuah kisah Snow White dibuat dengan hamper sempurna namun sayang agak sedikit seperti terburu-buru. Apalagi ketika Snow White yang terjebak dalam tipuan sang Ratu jahat. Adegan wide angle serta hentakan deru music garapan James Newton Howard (The Hunger Games, The Dark Knight) yang begitu hidup membawa kisah ini menjadi sebuah kisah perang yang epic dan cukup mencekam serta membuat naik turun perasaan anda. Abaikan kekerungannya yang terkadang ingin mempercepat sebuah scene, atau acting datar Kristen, atau anti klimaks cerita yang  dibangun nanggung dan cepat, Snow White and the Huntsman adalah salah satu kisah adaptasi the Brothers Grimm yang menjadi sebuah film wajib ditonton di awal musim banjir film Box Office (Summer Movies) tahun ini.

Overall 7/10


Senin, 23 April 2012

HI5TERIA : Omnibus Horror 5 sutradara muda


 Hi5teria

Director : 
Adriyanto Dewo, Chairun Nisa, Billy Christian, 
Nicholas Yudifar, & Harvan Agustriyansyah

Cast : 
Tara Basro, Dion Wiyoko, Maya Otos, Sigi Wimala, 
Luna Maya, Kriss Hatta, Imelda Therine, Poppy Sofia, 
Ichi  Nuraini, Bella Esperance, Otiq Pakis,  

Duration :  94 min

Sekilas ;
Omnibus 5 cerita mencekam yang disutradarai oleh 5 sutradara muda dengan ide yang berbeda. Cerita tersebut adalah : Pasar Setan, Wayang Kulit, Kotak Musik, Palasik, dan Loket.

Special INFO
Merupakan film horror pertama yang diproduseri oleh Upi.


REVIEW
Setelah Fisfic yang tampil secara Independent namun menimbulkan banyak kesan dan pujian dari banyak kritikus film. Kini tampil kembali ke layar lebar sebuah omnibus lainnya dengan mengangkat genre horror thriller dalam 5 rangkaian cerita. HI5TERIA tidaklah jauh berbeda dengan FISFIC yang telah mendahuluinya. Pasalnya 5 sutradara yang membesut 5 cerita ini bukanlah sutradara yang telah banyak melalang buana di dunia horror sekelas Rizal Mantovani ataupun Nayato. 5 sutradara baru ini memberikan 5 nuansa baru yang mencekam dalam dunia perfilm-an Indonesia.

Film dibuka dengan Pasar Setan besutan Adriyanto Dewo, yang berkisah tentang tersesatnya Sari (Tara Basro) ditengah hutan. Pertemuan Sari dengan Zul (Dion Wiyoko) bukannya menjadi sebuah pertanda baik, tapi Zul dan Sari malah terjebak ditengah hutan benlantara penuh misteri bak labirin horror dikaki gunung. Sekilas Dewo membesut pembuka film ini, yang langsung diingat adalah Pencarian Terakhir dari Affandi Abdul Rahman yang sukses beberapa tahun lalu. Dewo terlihat perlahan membangun ceritanya dari kegelapan sisi Sari sampai kearah twist ending cerita ini. Sangat sayang sekali pembentukan klimaksnya terusak oleh antiklimaks yang terbilang biasa saja. Saya pribadi mengharapkan ada sesuatu yang tampil mencekam dan mengejutkan di penghujung cerita ini. Dan twist yang tumpul tersebut bisa terselamatkan dengan tampilan angle yang sangat indah di belantara hutan dan kaki gunung.

Wayang Kulit besutan Chairrun Nissa mengambil tema mistik khas Indonesia yang kental. Bercerita tentang Nicole (Maya Otos) yang mendadak diteror oleh serangkaian kejadian mistis setelah ia menyaksikan sebuah pertunjukan Wayang Kulit. Sebagai satu-satunya sutradara wanita, “Illun” (panggilan akrab Nissa) mendirect ceritanya tidak kalah gelap dengan 4 sutradara pria lainnya. Maya tampil sangat prima, dan Sigi Wimala cukup tampil mencekam. Cerita yang mencekam eksekusi ending yg tidak menguat. Sekali lagi segment ini tidak bisa membuat penonton merasa ketakutan. Dengan sodoran mistik-mistik wayang kejawen yang bertubi-tubi, sangat disayangkan endingnya dibuat sangat “biasa”. Pembukaan adegan dengan pertunjukan wayang yang biasanya indah sudah cukup mengesankan dengan terbentuk menjadi hawa mistik. Dengan sedikit tampilan hantu atau kesadisan yang mengejutkan harusnya bisa cukup untuk memperbaiki ritmik horornya yang kurang terasa. At least ending kentang sekali lagi muncul dalam hi5teria.

Cerita ke 3 Billy Christian tampil dengan judul Kotak Musik (dengan judul sebelumnya Keyakinan Farah), bercerita tentang Farah (Luna Maya) seorang dosen muda yang tidak percaya tahayul hingga sebuah kotak music mengantar farah kedalam suasana mencekam dalam hidupnya. Ada beberapa conten dalam film ini yang sudah banyak dipakai dalam film horror lainnya. Wanita modern, cantik, tidak percaya tahayul, dan melawan keyakinan religi. Farah adalah gambaran sosok wanita masa kini yang memang banyak terjadi dimasyarakat. Adegan pembuka dalam awal film ini malah terasa lebih seram ketimbang sepanjang film berlangsung. Tampilah hantu anak kecilnya agak kurang dramatis dan kurang membuat saya takut. Toh ini film horror kita bicara bahwa film horror harus seram. Cerita, set, dan posisi karakter Farah sudah cukup untuk membuatnya menjadi horror. Sangat disayangkan “feel scary” dalam film ini belum didapatkan. Beberapa adegan cukup membuat kaget tapi tidak cukup melontarkan anda dari kursi bioskop. Make up effect yang digunakan adalah make up effect favourite saya diantara film lainnya. Terlihat seram dan cukup menakutkan..

Dalam segment ke empat Nicholas Yudifar membawa legenda urban dari Minang tentang ilmu hitam melepas kepala dari raga. Palasik berkisah tentang seorang Ibu hamil (Imelda Therine) yang tengah liburan keluarga bersama suami dan putri tirinya (Poppy Sofia) didaerah Sumatera Barat. Villa milik bos-nya yang terleak jauh dari keramaian ternyata menyimpan banyak misteri mencekam, dan Palasik yang bergentayangan. Sebuah keputusan yang tepat untuk Nicho memeberikan tampilan palasik ketika sesekali menghantui keluarga ini. Pasalnya akan menjadi terlalu biasa dan tidak menyeramkan bila ditampilkan dalam wujud yang jelas. Sliweran palasik yang mengganggu dengan tatanan musiknya yang mencekam cukup memberikan hawa mistis yang baik. Anti klimasksnya dibuat biasa dengan sebuah kejutan besar tanpa bisa meledak-ledak. Imelda Therine ternyata menampilkan acting terburuknya. Sesekali terlihat kaku dan seperti mencari script yang jelas. Poppy Sofia seperti biasa selalu bisa menengahi kaku-nya lawan main lainnya. Sangat disayangkan dengan horror yang sedemikian tercipta masih belum bisa membuat saya dan beberapa penonton lainnya terkejut. Satu-satunya set yang membuktikan bahwa ini adalah daerah Minang plat mobil pada film ini selebihnya sangat modern.

Harvan Agustriansyah menutup omnibus ini dengan Loket. Berkisah tentang gadis penjaga loket (Ichi Nuraini) yang diganggu beberapa kali oleh sosok wanita misterius (Bella Esperance) di lokasi parkir basement. Empat cerita lainnya adalah cerita horror, namun Harvan disini sebagai the real horror experiences. Betapa tidak, suasana tempat parkir yang begitu sepi dan mencekam merupakan suasana yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Harvan berbeda dengan yang lain, baru mulai film saja sudah langsung dibuat tegang dan mencekam. Sesekali adegan “gangguan hantu” yang regular ad adi tiap film juga cukup berhasil membawa kegelapan ke kursi anda. Kemunculan Bella Esperance harusnya membawa suasana makin mencekam, tapi sayang Bella yang maksimal terlihat kurang tampil dalam film ini. Mungkin beberapa tampilan Bella harusnya bisa lebih seram. Karena bagi saya, trailer nya sudah cukup seram, tapi sayang filmnya harus berakhir kentang .

Ke lima cerita kreatif ini menggambarkan bahwa Indonesia sudah siap beranjak dari horror asal yang selama ini beredar. Meski tidak mencapai klimaks yang tinggi HI5TERIA mampu membawa kengerian dan suasana mencekam tanpa harus ada orang telanjang, pocong, ataupun hantu-hantu yang beredar dengan burtubi-tubi. Bicara soal klimaks yang belum sampai itu merupakan hal yang biasa dalam film horror. Yang jelas kelima sutradara ini mampu menyisihkan horror horror asal diluar sana dengan membawa HI5TERIA yang memberikan pengalaman horror berkualitas kelayar sinema. Sepatutnya beberapa senior film horror bisa seperti mereka, berkualitas, serius, dan tidak asal dalam film horror. Bagi saya horror itu sudah seperti warna yang special dalam film. Karena gak semua pemakai warna ini bisa berhasil dalam kualitas seperti mereka.

Overall : 7/10

Sabtu, 07 April 2012

the VOW


Director : Michael Sucsy

Writer : 
Stuart Sender (story), 
Jason Katims, Abby Kohn (screenplay), 
& Marc Silverstein(screenplay)

Cast :
Rachel McAdams ... Paige
Channing Tatum ... Leo
Scott Speedman ... Jeremy
Jessica Lange ... Rita Thornton
Sam Neill ... Bill Thornton
Jessica McNamee ... Gwen
Wendy Crewson ... Dr. Fishman

Duration :  104 min

Sinopsis
Life's all about moments, of impact and how they changes our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them?

Merayakan lima tahun pernikahan mereka, pasangan muda ini justru menghadapi tantangan terbesarnya disaat sang istri, Paige (Rachel McAdams), cedera serius dalam kecelakaan mobil yang mengakibatkan koma. Ketika aia sadar, bukan hanya dia tidak mengenali suaminya, Leo (Channing Tatum), namun ingatannya justru tertuju pada mantan tunangannya, Jeremy (Scott Speedman)

Meskipun Paige nampaknya tidak mencintai Leo lagi, semua usaha ia lakukan untuk membuat istrinya jatuh cinta dengannya lagi.

Special INFO
Kafe dimana Paige (Rachel McAdams) dikunjungani Leo bernama Cafe; Mnemonic – yang artinya adalah sebuah mnemonic atau perangkat mnemonic adalah teknik terapi untuk membantu memori. (IMDB)

REVIEW
Tidak ada maksud untuk merendahkan apalagi menghina, tapi ketika di opening scene muncul tulisan “inspired by a true story” mendadak saya teringat dengan film-film asal yang suka memunculkan tagline tersebut kedalam filmnya. The Vow adalah satu dari sekian banyaknya film adaptasi kisah nyata yang diangkat ke layar lebar dan BERHASIL. Mengingat kembali hanya sedikit dari film-film drama dengan alur percintaan yang kental dengan rayuan dan quote-quote manis sepanjang film.

 Bercerita tentang seperti apa film ini sebenarnya, adalah perkara yang agak sulit dijelaskan. Pasalnya yang ditujuan oleh sang penulis di film ini adalah kisah pembangunan cinta yang hilang.


Seperti ingin meraup banyak penonton pasangan Rachel McAdams dan Chaning Tatum dipercaya untuk menduduki posisi pemeran utama. Rachel yang sebelumnya berhasil menghidupkan The Notebook dan Chaning yang juga berhasil tampil mengesankan lewat Dear John terlihat menjadi tonggak utama dijajaran pemain lainnya yang cukup banyak berpengalaman namun tidak terlihat istimewa. Karakter yang mereka olah disini sangat jauh berbeda dengan film mereka sebelumnya. Rachel yang terlihat penuh dengan cinta dalam film ini ia harus bisa memberikan pesonanya sebagai seseorang yang penuh galau dengan keadaannya setelah kecelakaan. Chaning yang biasanya terlihat sebagai sosok yang macho, agak disayangkan dalam film ini terlihat dipaksakan untuk menjadi romansa.  Sebuah kesalahan besar bagi Channing adalah bermain dalam pemeran utama dalam film ini. Melihat sosok Channing yang sebelumnya dan melihat kembali kedalam film ini, serasa melihat pohon diatas gunung dan pohon dibawah lembah. Sangat jauh berbeda dan kurang terlihat pas. Chemistry yang terbentuk diakui memang sangat baik, meskipun sesekali terlihat menggantung pencintraan kisah cintanya terlihat berjalan sempurna.

Agak sulit rasanya bila film ini harus mengejar kualitas Dear John dan A Walk To Remember ataupun The Notebook. Dengan kompilasi actor dan aktris yang cukup menunjang film ini cukup dibilang menjual dipasaran yang rindu akan kisah cinta nostalgia yang mendayu ala Nicholas Spark (meskipun film ini bukan hasil dari buah tangan Spark). Dengan angka yang cukup tinggi, film ini masih belum mampu ada di jajaran film drama yang mengesankan.

Overall 7/10





Rabu, 21 Maret 2012

Sampai Ujung Dunia




Director : Monty Tiwa

Cast : 
Dwi Sasono
Gading Marten
Renata Kusmanto
Roy Marten
Sudjiwo Tejo
Tutie Kirana

Duration :  97 menit

Sinopsis
Gilang, Daud, dan Anissa yang bersahabat sejak kecil. Setelah mereka dewasa, perasaan cinta yang telah lama dirasakan oleh Daud dan Gilang perlahan mulai muncul kepermukaan dan memancing pertengkaran diantaranya. Sebuah perkelahian terjadi antara Daud dan Gilang, dan Anissa memutuskan untuk melakukan undian. Barang siapa yang berhasil membawa Anissa ke Belanda menemui ibu kandungnya, dia yang berhak atas Anissa. Ditengah belenggu penyakit yang diderita Anissa dan rentannya waktu, cinta mereka bertiga diuji oleh luasnya laut dan tinggi langit untuk mencapai Belanda.




REVIEW

Setelah debutnya menyutradari film drama beberapa tahun lalu, Monty kembali dengan film yang memiliki feel beda dengan garapan sebelumnya. Sebuah kisah yang bertutur agak rumit dalam segi percintaan yang ditawarkan, juga plot yang diajukan sepanjang film memiliki alur yang baru dan menarik. Belanda sebuah negri kincir yang menjadi tonggak utama tujuan film ini berkembang. Dibalut dengan rumitnya persaingan cinta antara Daud dan Gilang memperebutkan Anissa, Monty menawarkan sesuatu yang lebih baru daripada film komedi dewasa garapannya yang terbilang flops.

Bukan sesuatu yang baru dengan kisah macam ini diangkat ke layar lebar. kisah cinta dengan tema dari sahabat berlanjut menjadi kisah kasih sudah banyak dan sudah sering kali muncul di station televise maupun layar lebar. sepanjang 90 menitan menonton film ini, saya merasa cukup puas dengan Monty yang terlihat lebih soft dan lebih telaten sepanjang penggarapannya. Eksekusi adegan demi adegan yang dibuat meruncing dan kemudian seringkali dijatuhkan sisi dari sisi antiklimaksnya oleh departemen editing, membuat feeling sepanjang film ini cukup menyentuh. Sesekali kisahnya yang terlalu mellow, terkesan seperti FTV tapi dengan kualitas yang sangat baik.

Sah-sah saja bila Monty dan Cesa membuat film ini memiliki alur maju mundur. Sesekali penonton dibawa kelaur kedepan dan kemudian penonton diajak terlena kemasa lampau Gilang dan Daud yang membuat mereka bisa menginjakan kaki ke Belanda. Editing dan pembentukan cerita yang terbilang unik inilah yang membuat Monty punya penwaran baru dalam dunia layar lebar. Alur, teknik directing, serta sinematografi sepanjang pembuatan film ini terlihat lebih serius dan lebih dalam. Pencapaian mimpi ketiganya untuk ke Belanda ditayangkan dengan directing yang soft dan sejuk. Standar ini jauh melamapaui film Indonesia lainnya yang berjudul my Blackberry Girlfriend yang juga mengambil plot ide “pertemuan di luar negeri’. Ataupun Alexandria (ReXinema) yang beberapa tahun lalu sempat booming, sisi tknis dan directingnya sudah dapat digeser oleh film ini. Suasana, plot dan alur menyentuh yang terlihat dengan baik tanpa terkesan dibuat-buat (sepertihalnya beberpa film drama lainnya) cukup menempatkan Sampai Ujung Dunia sebagai salah satu film berkualitas yang tidak mengesankan pamer lokasi shooting.

Overall 8/10


30 Fabulous


 Director : King Somjing Srisuphap

Cast : 
Pacharapa Chaichua, 
Phupoom Phongpanu, 
Peter Corp Dyrendel, 
Nithit Warayanont

Duration :  119 min


Sinopsis
Ja, seorang wanita cantik, memiliki segala seorang wanita seharusnya bermimpi memiliki; karir yang sukses, gaya hidup berpesta, dan kekasih tampan. Pada ulang tahun 30 nya, Ja menemukan kehidupan yang sempurna berubah ketika pacarnya ingin menghentikan hubungan. Sekarang, tiga puluh sesuatu, Ja menerima kehidupan yang bahagia sampai seorang pemuda baru masuk ke dalam hidupnya dan dia 7 tahun lebih muda.


Special INFO
Merupakan salah satu dari tiga film selama season ini yang bertemakan kisah cinta berbeda umur.

REVIEW
Nampaknya film Thailand sedang hive dengan kisah cinta yang berkutat dengan umur 30. Setelah sebelumnya 30 Single On Sale, kini munculah film yang berjudul 30 Fabolus dari perusahaan yang sebelumnya membawa Love Julinsee ke layar lebar. Agak aneh memang, karena setelah ini pun akan muncul film First Kiss dari Five Star Entertaiment yang juga mengulas kisah tentang wanita berumur 30 tahun yang jatuh cinta dengan anak remaja. Dan saat ini, mari kita fokuskan dulu ke sebuah film dari M thirty nine yang telah sukses membawa petualangan cinta dari berbagai cerita, kini membawa kembali sebuah drama remaja dengan judul 30 Fabulous.

 Ja adalah sebuah contoh kesekian banyaknya yang terjadi dikehidupan masa kini. Ketika sepasang kekasih yang tenggelam dalam kesibukan pekerjaan mereka juga tenggelam dalam kisah cinta mereka, hingga mereka tidak tahu dengan apa yang terjadi. Salah satu kisah klise yang sudah banyak terjadi, tapi kemudian diangkat dengan lebih baik lagi dengan gaya romantic comedy ala Thailand. Kisahnya ditata dengan lebih serius dan lebih dalam dari film 30 SOS (Single On Sale) yang terlalu mengecewakan untuk sutradara jebolan Crazy Little Things Called Love yan terbilang sangat memuaskan.

Bukan Thailand namanya bila ceritanya dibentuk tanpa ada sisipan kisah sepenggal. Masih dengan clue yang sama (bukan bermaksud membuat spoiler) kejutan manis dari Thailand yang satu ini terasa lebih romantic dan lebih menyentuh. Untungnya pengerucutan klimaks dan antiklimaksnya tidak terlalu dipaksakan seperti 30 SOS yang ternyata terlalu bertubi-tubi dan kemudian gagal. Salah satu drama comedy yang patut disaksikan dilayar lebar.

Overall 7.5/10